Semalam bersama Akhwat

Senja masih menggantung di kaki langit barat, ketika telponku berdering. Ternyata seorang teman yang hampir delapan tahun tak bertemu datang ke Jakarta. Senang sekali mengetahui hal ini, serta merta dia kuajak bermalam di rumah.

Berboncengan pulang menuju timur Jakarta. Untunglah jalan tidak terlalu macet sore ini dan mungkin hal seperti ini akan terjadi beberapa hari lagi, karena setelah liburan sekolah berakhir tak akan ada lagi jalan lengang, yang ada kepadatan dari setiap sisi jalan.

Perempuan itu masih seperti dulu, ceria dan riang dalam pembawaannya. Mungkin terlihat sedikit lebih dewasa, padahal delapan tahun yang lalu dia masih seperti anak kecil yang manja,  masih suka merengek-rengek kalau bicara. Kebiasaannya juga masih sama, selalu membaca Al-Qur’an setelah sholat wajib. Kemanapun dia pergi selalu ada kitab suci yang terbagi dalam juz untuk dibawanya.

Cerita dimulai dari kedatangannya ke Jakarta dalam rangka menunggu pengumuman S2 di IPB. Kemudian berlanjut kiprahnya dalam sebuah jaringan multi level marketing yang sekarang sedang tumbuh pesat di hampir semua kota besar di Indonesia.  Dia sangat bersemangat mengemukakan bahwa suplemen ini sangat bagus untuk masalah ini, itu dan sebagainya. Dan setiap jenis suplemen mempunyai pengaruh yang positif bagi kesehatan yang mengkonsumsi atau menggunakannya secara rutin. Pokoknya seru sekali.

Kemudian dia juga menceritakan kariernya sebagai pegawai negeri di tanah kelahirannya, yang sekarang sudah menduduki Kasie, salah satu Eselon IV dalam jenjang karier PNS. Alhamdulillah.

Diam-diam kedua mutiara hatiku mengamati dan mereka tidak merasa malu atau sungkan untuk bertanya atau sekedar bercerita tentang kejadian yang mereka alami seharian tadi. Wow senangnya, meskipun mereka belum pernah bertemu sebelumnya namun tidak ada kekakuan yang ada keakraban.

“Mama, temannya tante yah?”

“Iya kak, mama sama tante dulu satu kelas,  sama bulik Sintha juga” katanya menjelaskan

“Emangnya dulu mama sama tante sekolah barengan?”

“Iya, dulu tante, mama dan bulik Shinta sekolah barengan. Kalo sekolah itu temennya banyak… makanya kakak sekolah dong.”

“Aku juga mau sekolah kok Tante, tapi belum mulai. Kalo sekolah itu temen tante ada berapa?”

“banyak, ada ratusan orang…. dulu teman tante dan mama ada 200 orang lebih”

dan masih banyak pertanyaan yang mengalir dari bibir mungil  kenesnya Tiara.

Setelah Tiara dan adiknya terlelap,  pembicaraan dilanjutkan kembali. Dia menceritakan teman-teman seangkatan yang sekarang rata-rata sudah mengikuti atau sedang mengikuti S2. Diceritakan juga tentang seorang teman yang sudah mengundurkan diri sebagai PNS karena tidak bisa melihat begitu banyak kebohongan yang dilakukan rekan-rekan kerja atau atasannya.

Sementara malam sudah menyelimuti bumi dalam kegelapannya yang pekat. Hening dan sepi di luar sana, hanya suara jangkrik yang terdengar, tapi kami masih terus bercengkrama. Akhirnya akupun bertanya mengapa sampai hari ini belum ada keinginan untuk berumah tangga.

“mbak, umurku beberapa bulan lagi sudah kepala tiga. siapa sih yang tidak ingin berumah tangga. Aku juga ingin segera berumah tangga, tapi belum ada pasangannya. Banyak yang sudah mengenalkan aku dengan teman atau saudaranya, tapi kan aku tidak bisa menerima begitu saja. Aku ingin menikah buru-buru, tapi juga takut memulainya. Banyak sekali teman-teman yang curhat tentang polemik rumah tangga mereka padaku, padahal aku belum merasakannya. Hal-hal yang seperti itu membuat ketakutanku meningkat. Ketika seseorang di bawah angkatan kita sudah berumah tangga, dan kemudian mereka tidak bisa mempertahankannya atau bertahan tapi dalam suasana yang sangat tidak nyaman, membuatku takut, membuatku berfikir haruskah aku melakukan hal yang mungkin membuat aku akan merasa seperti mereka….. aku takut mbak.”

Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata lagi, karena ternyata ketakutan begitu mendominasi hatinya. Padahal mungkin saja mengarungi bahtera rumah tangga tidak selalu dalam ketakutan. Banyak hal yang bisa terjadi, banyak hal manis yang membuat rasa kasih dan sayang semakin bertambah, juga banyak hal yang mungkin akan mengurangi rasa keterikatan diantara sepasang suami isteri. Semua itu bagaikan sebuah perjalanan yang tidak selamanya lurus, karena kadang harus berbelok ke kanan atau ke kiri, juga tidak selamanya mulus kadang bergelombang, atau bahkan ada lubang dalam yang menganga.

Andaipun ada sebuah kegagalan, setidaknya itu dapat menjadi pembelajaran yang mempunyai arti besar di kemudian hari. Mungkin di balik kegagalan itu ada sebuah rencana besar dari Sang Pencipta untuk kehidupan yang lebih baik. Entah baik dalam kehidupan duniawi, ruhani atau baik dalam kehidupan seutuhnya. Karena kadang tidak selamanya kesuksesan dapat di raih dengan mudah, dan kadang kegagalan malah menjadi pemicu kesuksesan di kemudian hari.

Tapi apapun keputusan yang diambilnya, aku berdoa semoga sekembalinya dari Jakarta dia akan menemukan jodoh yang baik baginya. Jodoh yang dipilihkan Alloh SWT bagi seorang akhwat yang suci, yang belum pernah tersentuh tangan jahil laki-laki. Semoga Alloh memberinya seorang Ikhwan yang baik, yang akan membawanya pada surga dunia dan surga akhirat. Aaamiiin.

Leave a Comment

Required

Required, hidden



Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Most Recent Posts