Gerbang Kasih
Semalam saya dapat SMS yang bunyinya begini :
“kalo kamu suka pada seseorang karena dia CANTIK itu bukan cinta tapi NAFSU,
kalo kamu suka pada seseorang karena dia TAJIR itu bukan cinta tapi MATRE,
kalo kamu suka pada seseorang karena dia BAIK itu bukan cinta tapi RASA TERIMA KASIH,
TAPI……
kalo kamu suka pada seseorang padahal kamu tidak tahu kenapa kamu suka sama orang itu, itu baru CINTA yang sesungguhnya….”
Sedemikian bagusnya kata-kata itu, sampai membuat saya berfikir apa iya seperti itu? Lalu apakah menjadi penting jika kita menemukan pasangan yang baik dan membuat kita nyaman tapi bukan karena cinta yang sesungguhnya. Toh kalo saja setiap orang akan berfikir seperti itu, mungkin akan banyak orang yang tidak memiliki pasangan.
Wah penulisan saya jadi menyimpang yah, maksud saya tentu saja cinta yang dimaksud di atas adalah cinta kepada pasangan hidup kita. Saya tentu saja tidak dengan mudahnya mengeluarkan kalimat seperti itu, karena berdasarkan pengamatan yang saya lakukan terhadap diri sendiri maupun kepada teman atau lingkungan sekitar hanya sedikit sekali pasangan yang benar-benar memiliki cinta sesungguhnya. Sebagian orang memilih teman hidupnya karena kecantikan atau ketampanan yang dimiliki pasangannya, dan sebagian yang lain karena harta yang dimiliki oleh pasangannya, baik itu harta bawaan sejak orok atau harta yang didapat setelah mendapat pekerjaan.
Tapi masih memikirkan kalimat yang dikirim seorang teman itu, saya kembali merenungi kehidupan saya yang terlalu banyak gelombang, irama dan warna, yang memberikan saya begitu banyak pengertian dan pengalaman lahir dan bathin yang kadang membuat saya menjadi sok bijak kalo dimintakan pendapat tentang suatu masalah. Halaaah muji diri sendiri jadinya.
Begini maksudnya, dulu sewaktu saya masih ABG alias baru gede saya pernah suka sama seorang teman lain jenis (ya lain jenislah, karena kalo sejenis berarti saya belum masuk golongan orang yang biasa-biasa aja) yang kalo teman saya tanya apa yang menyebabkan saya suka sama dia, saya cuma jawab “nggak tahu” dan rasa seperti itu lama banget lunturnya. Artinya meskipun saya sudah mempunyai teman dekat yang lain, yang kemudian juga saya menikah tapi setiap kali teringat atau bertemu teman yang mengingatkan tentang dia, rasa suka itu kembali lagi…… membuat mata saya berbinar-binar lagi.
Oh ya mata yang berbinar-binar itulah yang salah satunya membuat saya suka sama dia. Jadi begitu ada kesempatan kami berbicara bertatapan mata saya baru tahu bahwa matanya berbinar saat berbicara dengan saya….. tapi itu kejadian di saat saya masih abege, dan sekarang tentunya saya cuma senyum-senyum kalo mengingat semua itu.
Ketika saya bertanya dengan beberapa teman apa yang menjadi alasan mereka memilih pasangan hidup, jawaban yang saya dapat kebanyakan karena sudah mapan, sudah memiliki nilai yang cukup untuk bisa hidup berpasangan atau kalo menurut sms diatas Matre. Dan saya sendiri tidak menolak ketika saya dituduh mengapa saya memilih “Sang” untuk menjadi ayah bagi Tiara dan Dude adalah karena alasan Matre tersebut. Buat saya mungkin matre, tapi selain matre itu tentu masih ada rasa suka yang juga mengikuti yaitu rasa sayang, dan tentu saja rasa sayangnya dia pada saya.
Kalo ada beberapa orang yang kemudian memilih untuk hidup bersama “Cinta sesungguhnya” tanpa memikirkan kebutuhan hidup, maka saya tertawa atau paling tidak tersenyum miris…. kenapa?? karena buat saya hidup bukan melulu untuk cinta, tapi adalah sebuah pemenuhan dari begitu banyak kebutuhan untuk dapat meraih kenyamanan, kenikmatan dan kebahagiaan, dan “Cinta Sesungguhnya” adalah salah satu dari pemenuhan kebutuhan hidup itu. Apa jadinya hidup dengan cinta sesungguhnya atau cinta sejati kalo ternyata dalam pemenuhan kebutuhan yang lain tidak bisa diperoleh. Misalnya adakah lagi cinta sejati begitu mata ingin terpejam tapi yang tersedia hanyalah selembar tikar diatas sebidang tanah beratapkan awan? atau ketika perut meronta ingin diisi tapi yang tersedia hanyalah seonggok kata-kata dan rasa penuh cinta sejati. Disini akan ada banyak rongga yang terjadi karena tiada pemenuhan yang diperoleh….. dan itu membuat cinta menguap perlahan-lahan, sampai kemudian lenyap ditelan awan hitam.
Ketika kemudian saya menyukai seseorang yang tidak pernah saya jumpa dimanapun, tanpa suatu alasan yang jelas, apakah itu berarti saya menemukan kembali “cinta sesungguhnya”….. padahal banyak batasan yang membuat saya harus mengerti bahwa hal ini tidak boleh terjadi. Dan seandainyapun saya memaksakan untuk membenarkan perasaan yang salah itu, saya juga akan menyiksa diri dan menyiksa perasaan banyak orang lain di sekitar saya. Dus itu berarti bahwa sekali lagi saya harus paham dan mengerti bahwa “cinta sesungguhnya” itu tidak ada antara dua manusia, tetapi adanya adalah antara manusia dengan Sang Pencipta, karena disananya sesungguhnya segala kebutuhan akan terpenuhi dan segala hasrat akan diisi.
Jadi jangan pernah lagi terjebak oleh kata-kata “cinta sejati” atau “cinta sesungguhnya” karena itu hanyalah kalimat teragung yang diajarkan oleh syetan agar kita para manusia mau mengikuti kehendaknya dan menghalalkan segala cara untuk dapat mengikutinya memenuhi nafsu yang sesat.
Semoga Alloh SWT melindungi saya dan keluarga dan kita semua yang ingin berlindung kepadanya dari jebakan-jebakan syetan yang beratas namakan cinta.
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed