Posts filed under '1'




galau

hari ini,
tak jua kutemui sebaris kata
atau tanda
atau apapun dari mu
yang menunjukkan bahwa kamu ada disini
membuka satu demi satu kata yang mengalir dari jemariku
atau sekedar mengetahui keberadaanmu
dan mengeras hati dalam galau
menitik tangis dalam relung yang tak bergema
bahkan tak pernah tampak meski di mata
galau yang mendera
adalah duka yang tak pupus oleh tawa
juga tak sirna dalam canda
galau ini….. mendera jiwa
bilakah hadirmu kembali????

Add comment January 29, 2009

Jangan Pernah….

jangan pergi,
meskipun hanya sebentar saja
diamlah tetap dalam hatiku
meski tak tahu apakah kan mempunyai makna yang berarti
atau hanya beku dalam kediamanmu

jangan pernah pergi
meski dalam remang
dapat kuraba kehadiranmu
dapat kurasa penglihatanmu
dapat kurengkuh kokoh jiwamu

meski
berganti gerhana dalam hidup
berganti terang dan gelap
berganti hujan dan panas
aku tetap bertahan
dalam keadaan yang sama tentangmu
jadi diamlah disitu
dalam relung yang tak tembus kasat mata
dalam taman yang tak terhiasi kata
dalam hati yang tersimpuh doa setiap waktu untukmu
jangan pernah pergi….. cintaku.

Add comment January 28, 2009

BUNDA

Sejenak kupandang wajah tua

yang dulu terlihat ayu dimataku

kugengam jemarinya yang tak lagi kokoh

yang begitu kuat diterpa badai kehidupan

yang begitu kuat menerima takdir kehidupan

jemari ini mungkin dulu tak sempat membelaiku

karna begitu banyak beban yang harus ditunaikan

tapi masih bisa kurasakan perjuangan dan kelembutan hatinya

masih bisa kulihat ketabahannya

masih sering ku ingat rambut panjangnya yang hitam dan tebal

dan aku sering tak percaya bahwa semua sudah pudar dalam putih uban

sering ku menatap penuh harap

bahwa suatu ketika aku juga akan memiliki

mata penuh kasih

mata bapakku yang menatapnya

mata yang selalu penuh dengan cinta

yang seutuhnya dan sepenuhnya tertumpah

hanya untuk satu wanita pendamping hidupnya

yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya

betapapun,

tak pernah mampu kubalas kebesaran jasamu

tak kan mampu kuberi ketulusan seperti ketulusanmu

tak kan mampu kupeluk sehangat pelukanmu

hanya satu yang dapat kulakukan

kuberdoa kepada pemilik jiwamu, wahai bunda

ampunilah dosa bundaku ya Allah

sayangilah dia seperti dia menyayangiku diwaktu kecil

penuhilah kehidupannya dengan cinta-Mu ya Allah

cinta yang hakiki, di dunia dan di akhirat

dan tempatkanlah dirinya dalam surga kepunyaan Mu

di dunia dan di akhirat…. aaamiiin.

Add comment November 18, 2008

Mengenal Pak Dhe

Sosok seorang yang arif dan bijaksana, yang melekat dalam bayanganku buat seorang Pak Dhe. Begitu beliau biasa dipanggil oleh sekian banyak teman, bukan karena beliau kakak dari salah satu orang tua, tapi karena beliaulah yang dituakan oleh kami. Pak Dhe dalam benakku adalah seorang lelaki dewasa yang beranjak ke usia senja, dengan segudang ilmu yang melekat di kepala dan kalbunya.  Karena itu aku sangat ingin sekali berjumpa dengannya, meski hanya sekali dan kalau bisa lebih dari sekali.

Harapan itu akhirnya terwujud, tatkala seorang teman mengontak ingin mengajak silaturahim ke rumah Pak Dhe. Tanpa berfikir lebih jauh, aku langsung mengiyakan dan siap untuk berangkat jam berapapun perginya. Padahal exit permitnya belum terfikir, mau cari alasan apa untuk bisa keluar dari kantor yang penuh birokrasi ini.

Jam 12 setelah sholat dzuhur, aku menghadap ke atasan dan mohon ijin untuk lebaran ke rumah Pak Dhe, yang akan segera kembali bertugas di Makasar. Setelah sedikit tanya jawab akhirnya akupun diijinkan untuk meninggalkan kantor. Masih meninggalkan tas dan atribut bawaan dari rumah,  yang kubawa hanya dompet dan hape saja. Karena aku dijemput, motor juga ditinggal di kantor.

Hampir jam satu siang ketika avanza (atau mobil sejenis yang tak masuk dalam perhatianku) silver itu datang dan membawa kami menuju tempat yang lain lagi untuk menjemput yang lain. Menyusuri jalan Jakarta yang sebenarnya sangat panas, tapi tetap terasa sejuk karena ac mobilnya maknyusss  sampai ke daerah yang penuh dengan nama-nama logam, sampailah di lapangan basket dimana Pak Dhe sudah menunggu.

Kamipun berjalan sekitar 10 meter ke rumah Pak Dhe. Rumah putih yang sejuk, besar dengan dinding yang menjulang tinggi. Disana telah menunggu seorang teman sejawat Pak Dhe yang telah pensiun dan tentu saja seorang wanita sebaya yang masih cantik dan ramah yang langsung kupanggil Bu Dhe.

Keakraban langsung terasa, tak ada rasa canggung atau malu-malu lagi,  semua mengalir begitu saja. Cerita dari mulai perpindahan tugas ke Semarang, soal Kiai Dahsyat, listrik, emas, sampai masalah copet terbahas disini, dan tentu saja tak terlupakan adalah cerita tentang ORARI yang menjadi salah satu hobby Pak Dhe.  Bu Dhe memberikan kami para wanita souvenir dari Makasar berupa dompet, kipas dan tempat lipstik dengan warna yang cantik. Terima kasih Bu Dhe, semoga bermanfaat dan awet sebagai kenang-kenangan.

Cerita masih berlanjut di rumah makan Sedarhana masakan Padang. Bu Dhe bercerita tentang Fe dan Sheila yang sekarang hanya tinggal berdua di rumah, dan seorang pembantu yang mengurus pakaian dan rumah mereka.  Juga menceritakan kehidupan di Makasar, dengan fasilitas rumah besar dengan halaman luas, listrik, air dan gas gratis dan juga tentang kehidupan para daeng. Sampai selesai acara makan, para wanita tetap saja ngerumpi tanpa berhenti. Perempuan memang rame ya kalo sudah ketemu teman yang cocok.

Kembali ke rumah Pak Dhe melanjutkan pembicaraan, tapi hari telah beranjak sore dan satu demi satu menghaturkan wajah ke hadapan Tuhan Sang Pencipta dalam shalat ashar. Setelah itu kunjungan berakhir. Kamipun berangkat kembali menyusuri jalanan Jakarta yang mulai kembali macet. Sampai matahari tergelincir ke belahan bumi yang lain, barulah sampai ke rumah.

Alhamdulillah, syukurku kepada Mu ya Allah, untuk hari ini yang menyenangkan, dan untuk hari-hari yang telah terlewati juga untuk hari-hari esok yang akan terlewati. Semoga berkah Mu selalu menyertai disetiap langkah. Terimakasih Pak Dhe dan teman-teman yang telah membawa saya kepada seorang yang saya kagumi. Semoga jalinan ini tetap berlanjut sampai nanti….. aaamiiin.

Bumi Sanapati, Oktober 2008

Add comment October 10, 2008

tAk AdA IdE

Sepulang ramadhan dari pangkuan bumi muslim

sepi kembali menaungi malam yang terasa menjadi lebih panjang

begitupun ketika pagi menjelang

serasa waktu enggan beranjak dari pelukan pagi yang sejuk

sepi di jalan bukan berarti tak ada hambatan

satu demi satu merangsak mencoba kecepatan yang paling tinggi yang terjangkau

begitupun suasana disini

melingkup tawa dan canda serta sedikit tenaga yang terkuras

selebihnya adalah menunggu matahari tergelincir hingga sepenggal jari

untuk kembali mencari kedamaian dalam pelukan sang peneduh diri

yang berdiri menunggu sejak pagi hingga pagi lagi, sepanjang waktu

sepulang ramadhan dari pangkuan bumi

serada ide-ide beranjak pergi

mengelana mengelilingi bumi yang belum terpijak

mengelana dalam derap kaki kuda nun jauh di bagian bumi yang lain

dan

sepi menjuntai bagai awan hitam yang datang setiap petang menjelang pulang

bukan cuma di milis

bukan cuma di balik meja

tapi dari hati yang terdalam di setiap insan

sepi dan kehilangan sang ramadhan

Add comment October 8, 2008

Pengakuan Sang Playboy

Sabtu sore masih sibuk ngeberesin rumah yang memang berantakan terus tidak bisa rapi, karena dua kurcaci kecil yang tercinta selalu membuat berantakan, ketika esiaku berbunyi….

“Ma, teman-teman mau ke rumah, dalam waktu 5 menit sudah sampai lho. saya sudah ada di depan nih.”

Sebuah pemberitahuan atau ultimatum nih? lima menit gitu lho…. cuma sempat ganti baju dan pake krudung doang, padahal rumah masih berantakan, masih di sapu. Bener aja, belum sampe lima menit mereka sudah muncul.

“Assalamualaikum….. apa khabar?…..sibuk yah, biasa kan ibu-ibu memang begitu, sibuk melulu…” sang tamu memberi salam dan terus memberondong dengan kalimat panjang. Tiga orang bronis alias brondong manis teman suami memang sudah biasa main ke rumah, jadi sudah akrab dan tidak malu-malu lagi.

Setelah mengambil minum dari kulkas, biasa sih kalo di rumah memang harus self service sebab kadang saya harus kesana kemari mengawasi si bungsu, salah satu dari tiga bronis ini duduk di depan saya. Mula-mula cerita tentang kebijakan kantor yang mulai tidak memihak ke karyawan, kemudian menurunnya isentif mingguan yang biasanya mereka dapat, pekerjaan yang tidak terus menerus dan tak ada kata istirahat yang memang benar-benar menguras tenaga… dan lain sebagainya. Memang sih pekerjaan mereka mengurus penerimaan barang import dan eksport dalam jumlah besar benar-benar membutuhkan energi banyak. Mulai dari pemeriksaan barang, pembuatan dokumen, pembayaran pajak, sampai barang keluar. Saya pernah menjemput suami ke kantornya (dulu rumah kami jauh, sehingga lebih efisien kalo pulang bareng dan karena jadwal pulang saya lebih cepat, jadi saya yang menunggu di kantornya) dan ternyata disana setiap orang masih sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Belum lagi masih harus membawa dokumen pembayaran pajak ke Bank Mandiri yang ada di Bandara untuk di stempel… akhirnya saya ikut bantu memproses dokumen dan terakhir malah ikut bantu menstempel dokumen itu di Bank. Setelah proses yang panjang akhirnya jam sembilan malam pekerjaan baru berakhir.Duh capeknya….

Obrolan berlanjut ke cerita dalam keluarga, bronis ini sudah ditinggal ayahnya sejak kuliah di semester 4. dan biaya kuliah selanjutnya dibantu kakaknya. Jadilah tradisi menyekolahkan adik berlanjut sampai kedia sekarang yang membantu membayar kuliah adiknya. Oh ya umur bronis ini sudah 29 tahun, dan masih belum menikah walaupun keinginan untuk itu sudah sangat besar.

“mbak, aku nih sampai berdoa, ‘ya Alloh, kalo memang sudah datang jodohku tolong berikan cinta di hati kami, sehingga aku bisa mencintainya dan dia juga mencintaiku’ gitu lho mbak… sebab selama ini ketemu cewek kok ga bisa cocok yah, kalo bukan dia yang ga suka sama aku, aku yang ga cocok sama dia… begitu terus. Cariin dong mbak, yang kayak mbak deh biar bisa seneng kayak masnya…Pokoknya orangnya jangan yang gendut, apalagi hitam… ya mbak.”

Padahal kalo dilihat orangnya cakep, manis, sedap dipandang, tidak terlalu tinggi sekitar 165 cm, bersih dan enak diajak ngobrol, jadi kalo dia kesulitan mencari pasangan kayaknya ga mungkin banget deh. dan dia melanjutkan kisahnya lagi, katanya, dulu dia mempunyai beberapa pacar. Setiap pacaran sik asik banget dan selalu fun, tapi kalo sudah bosan dia pergi begitu saja tanpa kabar berita alias kabur. Sampai akhirnya dua diantara pacar-pacarnya itu bersumpah kalo dia nanti akan sulit menemukan jodoh, kalo dia suka pasti ceweknya ga suka dan demikian sebaliknya.

Pada mulanya sih dia anggap sumpah itu cuma omongan orang yang kecewa dan sakit hati dengan kelakuannya, tapi pada saat sekarang dia merasa kejadian yang menimpanya seringkali seperti itu. Dalam hati kecilnya dia jadi mengakui kalo sumpah itu berarti buatnya…. rasa sesal juga mulai datang, tapi mau minta maaf juga susah, karena dia juga tidak tahu dimana kedua orang itu sekarang.

Saya sih cuma menyarankan, perbanyaklah beristighfar dan bersedekahlah di pagi hari supaya malaikat bisa mendoakan dan memohon ampunan baginya…. siapa sih yang tidak mau didoakan malaikat, apalagi doanya malaikat pasti dikabulkan Alloh SWT…. semoga kamu segera dapat jodoh yang baik yah. Siapapun nanti yang berjodoh dengan kamu, semoga dia adalah wanita soleha yang kamu dambakan. Aaamiiin.

Add comment July 29, 2008

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

November 2009
M T W T F S S
« Oct    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Posts by Month

Posts by Category