Jalan sempit berliku
January 10, 2009
rh241
Hari itu saya ingin menghadiri resepsi perkawinan salah seorang teman yang meskipun bisa dibilang akrab, tapi tak dekat. Bagaimana mau dibilang dekat, karena bertemupun baru sekali, tapi bisa dibilang akrab karena hampir setiap hari menjalin komunikasi dunia maya alias ngenet.
Kali ini saya hanya berdua suami, karena kebetulan anak-anak sedang tidur dan ada yang menemani mereka. Wah asyiknya bisa berduaan, bisa bebas sebentar dari gangguan buah hati dan bisa ngobrol ngalor-ngidul tanpa ada intrupsi mendadak.
Ditengah perjalanan saya baru menyadari kalau saya hanya memakai sandal karet bukan sepatu atau selop, pas saya melihat ke kaki suami saya, ternyata suami memakai sandal juga (tapi masih bagus pake sandal kulit)…… lho kok bisa sama sih? Ternyata suami saya menyimpan sepasang sepatu di bagasi. Wah tinggal saya nih yang jadi merasa aneh sendiri.
Sebenarnya sih saya tidak malu memakai sandal karet ke acara apapun, tapi karena saya tidak berangkat sendiri, jadi saya akan merasa sangat bersalah kalau orang yang jalan di sisi saya merasa malu dengan penampilan saya yang tidak sepantasnya. Saya jadi teringat dengan seorang perempuan yang berkenalan di busway yang pakaiannya modis, dandanannya oke tetapi harus memakai sandal jepit karena hak sepatunya copot di tengah jalan.
Untungnya keluar dari pintu tol masih melewati pasar tradisional. Pasar yang semakin kurang diminati oleh masyarakat karena menjamurnya mall-mall yang menjanjikan kenyamanan dalam berbelanja. Nah di pasar ini saya singgah sebentar untuk membeli sepatu (tanpa merek) yang masih pantas untuk dipakai ke acara resepsi. Harga….. tak jadi masalah, karena sepatu yang tersedia tersedia dari 10 ribu sampai 200 ribuan, dan tidak pakai lama. Berbeda kalau beli sepatunya di Pasaraya atau di Pasar baru, pasti pake lama dan harganya juga bisa mencapai jutaan rupiah.
Melewati Stasiun Bojong Gede yang jalannya kecil dengan banyak angkot yang sebentar-sebentar berhenti, membuat perjalanan semakin terasa lama. Apalagi hujan terus menerus mengguyur di sepanjang jalan, rasanya sudah tak sabar ingin pulang kembali ke rumah.
Alhamdulillah akhirnya sampai juga di perhelatan besar itu. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan sang mempelai, ikutan photo bareng, menikmati sepiring (bukan semangkuk) sop hangat, kami segera pamit pulang.
Sepanjang jalan menuju Bogor melewati jalan sempit yang sedang diperbaiki dan melintasi jalur pinggir kali yang rawan longsor. Jalan ini sempit dan berbatasan dengan kali, jadi kalau kurang hati-hati mungkin bisa terjadi kecelakaan yang berakibat penumpang plus kendaraan yang ditumpangi tercebur kali.
Semoga tidak melewati jalan ini lagi, atau setidaknya saya berharap kalau melewati jalan ini lintasan yang sedang diperbaiki sudah selesai, sehingga rasa was-was yang timbul akan berkurang.
Buat teman yang baru menjadi pengantin, semoga akan selalu bahagia, diberkahi dengan kasih sayang dan kecukupan serta keturunan yang baik dan tetap bersatu sampai akhirat, aaamiiin.
Entry Filed under: gado-gado kehidupan
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to comments via RSS Feed