Archive for October, 2008
rangkaian kata di malam selasa
beberapa bait yang tertuang di hape…..
bait i
betapa sulitnya memendam sesuatu dalam jiwa
yang memberontak mencari pembenaran
suatu yang membara dalam kebekuan yang diciptakan
dan tiap detik terasa sangat lamban
aku benci rasa yang mendera jiwa
aku benci tak mampu menguak tabir ini dengan jemariku
aku nyaris meretakkan dinding hati
tapi aku tetap disini
tak beranjak dari takdirku…
bait ii
Rasa ini menghentak
bagai senar dawai yang ditarik
menggerogoti keping hati dan jiwa
kering terasa dalam bara yang menyergap
tapi apakah kau peduli
atau membiarkan duri ini terus menusuk hati
menggorekan luka, berdarah, bernanah dan membusuk dalam jiwa?
bukan aku tak peduli
tapi aku tak mau resah menggantung jiwa
pedih dan teramat sakit
bait iii
dan semua adalah kesia-siaan
tak satupun rela itu berjaya
sepi menebar
gangga mengaliri pipi
duka biarlah tetap menjadi duka
tak layak lebur dalam dosa
selama masih ada tawa tersisa
Add comment October 22, 2008
Mengenal Pak Dhe
Sosok seorang yang arif dan bijaksana, yang melekat dalam bayanganku buat seorang Pak Dhe. Begitu beliau biasa dipanggil oleh sekian banyak teman, bukan karena beliau kakak dari salah satu orang tua, tapi karena beliaulah yang dituakan oleh kami. Pak Dhe dalam benakku adalah seorang lelaki dewasa yang beranjak ke usia senja, dengan segudang ilmu yang melekat di kepala dan kalbunya. Karena itu aku sangat ingin sekali berjumpa dengannya, meski hanya sekali dan kalau bisa lebih dari sekali.
Harapan itu akhirnya terwujud, tatkala seorang teman mengontak ingin mengajak silaturahim ke rumah Pak Dhe. Tanpa berfikir lebih jauh, aku langsung mengiyakan dan siap untuk berangkat jam berapapun perginya. Padahal exit permitnya belum terfikir, mau cari alasan apa untuk bisa keluar dari kantor yang penuh birokrasi ini.
Jam 12 setelah sholat dzuhur, aku menghadap ke atasan dan mohon ijin untuk lebaran ke rumah Pak Dhe, yang akan segera kembali bertugas di Makasar. Setelah sedikit tanya jawab akhirnya akupun diijinkan untuk meninggalkan kantor. Masih meninggalkan tas dan atribut bawaan dari rumah, yang kubawa hanya dompet dan hape saja. Karena aku dijemput, motor juga ditinggal di kantor.
Hampir jam satu siang ketika avanza (atau mobil sejenis yang tak masuk dalam perhatianku) silver itu datang dan membawa kami menuju tempat yang lain lagi untuk menjemput yang lain. Menyusuri jalan Jakarta yang sebenarnya sangat panas, tapi tetap terasa sejuk karena ac mobilnya maknyusss sampai ke daerah yang penuh dengan nama-nama logam, sampailah di lapangan basket dimana Pak Dhe sudah menunggu.
Kamipun berjalan sekitar 10 meter ke rumah Pak Dhe. Rumah putih yang sejuk, besar dengan dinding yang menjulang tinggi. Disana telah menunggu seorang teman sejawat Pak Dhe yang telah pensiun dan tentu saja seorang wanita sebaya yang masih cantik dan ramah yang langsung kupanggil Bu Dhe.
Keakraban langsung terasa, tak ada rasa canggung atau malu-malu lagi, semua mengalir begitu saja. Cerita dari mulai perpindahan tugas ke Semarang, soal Kiai Dahsyat, listrik, emas, sampai masalah copet terbahas disini, dan tentu saja tak terlupakan adalah cerita tentang ORARI yang menjadi salah satu hobby Pak Dhe. Bu Dhe memberikan kami para wanita souvenir dari Makasar berupa dompet, kipas dan tempat lipstik dengan warna yang cantik. Terima kasih Bu Dhe, semoga bermanfaat dan awet sebagai kenang-kenangan.
Cerita masih berlanjut di rumah makan Sedarhana masakan Padang. Bu Dhe bercerita tentang Fe dan Sheila yang sekarang hanya tinggal berdua di rumah, dan seorang pembantu yang mengurus pakaian dan rumah mereka. Juga menceritakan kehidupan di Makasar, dengan fasilitas rumah besar dengan halaman luas, listrik, air dan gas gratis dan juga tentang kehidupan para daeng. Sampai selesai acara makan, para wanita tetap saja ngerumpi tanpa berhenti. Perempuan memang rame ya kalo sudah ketemu teman yang cocok.
Kembali ke rumah Pak Dhe melanjutkan pembicaraan, tapi hari telah beranjak sore dan satu demi satu menghaturkan wajah ke hadapan Tuhan Sang Pencipta dalam shalat ashar. Setelah itu kunjungan berakhir. Kamipun berangkat kembali menyusuri jalanan Jakarta yang mulai kembali macet. Sampai matahari tergelincir ke belahan bumi yang lain, barulah sampai ke rumah.
Alhamdulillah, syukurku kepada Mu ya Allah, untuk hari ini yang menyenangkan, dan untuk hari-hari yang telah terlewati juga untuk hari-hari esok yang akan terlewati. Semoga berkah Mu selalu menyertai disetiap langkah. Terimakasih Pak Dhe dan teman-teman yang telah membawa saya kepada seorang yang saya kagumi. Semoga jalinan ini tetap berlanjut sampai nanti….. aaamiiin.
Bumi Sanapati, Oktober 2008
Add comment October 10, 2008
tAk AdA IdE
Sepulang ramadhan dari pangkuan bumi muslim
sepi kembali menaungi malam yang terasa menjadi lebih panjang
begitupun ketika pagi menjelang
serasa waktu enggan beranjak dari pelukan pagi yang sejuk
sepi di jalan bukan berarti tak ada hambatan
satu demi satu merangsak mencoba kecepatan yang paling tinggi yang terjangkau
begitupun suasana disini
melingkup tawa dan canda serta sedikit tenaga yang terkuras
selebihnya adalah menunggu matahari tergelincir hingga sepenggal jari
untuk kembali mencari kedamaian dalam pelukan sang peneduh diri
yang berdiri menunggu sejak pagi hingga pagi lagi, sepanjang waktu
sepulang ramadhan dari pangkuan bumi
serada ide-ide beranjak pergi
mengelana mengelilingi bumi yang belum terpijak
mengelana dalam derap kaki kuda nun jauh di bagian bumi yang lain
dan
sepi menjuntai bagai awan hitam yang datang setiap petang menjelang pulang
bukan cuma di milis
bukan cuma di balik meja
tapi dari hati yang terdalam di setiap insan
sepi dan kehilangan sang ramadhan
Add comment October 8, 2008
Menulis Saja
kadang begitu banyak kata yang ingin dituangkan dalam sebuah tempat bernama blog, tapi kadang tidak bisa dengan mudahnya mengalir dari jari jemari yang bergoyang kesana-kemari mencari tuts keyboard. Kadang kata yang sudah terukirpun harus didelete kembali dengan alasan takut jika dibaca oleh seseorang atau sekian orang yang terlibat langsung dalam kisah yang tertuang.
namun kali ini aku ingin mengetik saja, menuangkan sebaris kata atau sekian banyak kalimat yang mungkin tidak mempunyai arti bagi siapapun termasuk juga bagi diriku sendiri. Namun perlu kutekan terus tuts keyboard ini agar otak ini tidak berhenti berputar dan tidak menjadi beku setelah selama 7 hari 7 malam tidak membuka alat elektronik yang bernama komputer dan tidak juga menjelajah negeri terindah yang bernama dunia maya.
Kukatakan dunia terindah, karena aku tahu di dunia maya aku dapat melihat suatu tempat yang mungkin tidak akan pernah kutatap dengan kedua bola mataku yang indah pemberian Sang Maha Pemberi, atau menjejakkan kaki di tempat dimana begitu banyak cost yang harus kukeluarkan untuk mendapatkannya. Kukatakan yang terindah, karena aku tak perlu beranjak jauh untuk mencari ilmu yang mungkin akan membutuhkan banyak hal untuk mendapatkannya. Ilmu yang kadang memang ilmu yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan juga ilmu spiritual yang akan atau bisa segera diterapkan dalam kehidupan bathiniah dan mempercantik jiwa.
Kukatakan dunia terindah, dimana aku bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu mengikuti adanya aturan yang membelenggu dan norma-norma yang kadang mengikat tanpa kepastian hukum. Dimana ruang menjadi begitu luasnya tanpa memerlukan uang bermilyar untuk membeli lahan yang kadang dijadikan kebanggaan bagi sekian banyak orang yang bertuhankan materi, yang kadang untuk mendapatkannya menghalalkan segala cara. Juga mempunyai begitu banyak orang yang bisa dijadikan tempat untuk sharing tanpa perlu melihat status, jabatan, dan kedudukan yang disandangnya, tanpa perlu duduk berhadapan dengan raut wajah yang kuyu, malu atau bersimbah peluh.
Kukatakan dunia yang terindah, karena aku pernah menemukan sebuah bayangan yang mendominasi hati tanpa melihat ada apa dengan sang empunya diri, tanpa mengerti apa yang dimiliki dan segudang tanpa yang lain. Mungkin inilah cinta yang terindah, suatu rasa yang mengguncang bathin dan tak mampu untuk mengendalikannya. Rasa terombang-ambing dalam suatu keadaan dimana aku tak tahu harus menyelesaikannya dengan cara apa. Dan ketika kesadaran muncul bahwa aku bukan hidup di dunia maya membuat rasa menjadi sakit dan teramat sakit, sehingga menimbulkan kerusakan fisik dan jiwa dalam kurun waktu yang cukup lama. Suatu rasa yang begitu kuat yang seakan membetot segenap jiwa dan mengingatkan kembali ketika pertama kali aku mencintai seorang kakak kelas, yang meskipun sudah tidak bersama lagi tapi rasa itu yang mendominasi hingga bertahun-tahun, tak peduli siapa yang berdiri disisiku.
Ketika jemari ini menekan begitu saja tuts keyboard, tidak lagi terlintas dalam benakku apakah akan ada sekian banyak komentar atau kritik dari mereka yang mengaku ahli dalam bidang tulis menulis, atau bidang baca membaca yang seringkali menemukan kalimat yang tak sejalan, atau kata yang tak sesuai. Akh sabodo teuing, begitu istilah orang sunda dalam menanggapi kritikan yang dianggap tidak perlu. Walau sebenarnya mungkin diperlukan juga buat peningkatan mutu dari gaya penulisan yang masih mencla mencle, belum pasti mau mengikuti alur seperti apa dan bagaimana bentuknya. Apakah harus mengikuti bahasa Indonesia yang baik dan benar seuai dengan kaidah bahasa Indonesia, atau mengalir begitu saja seperti air yang mengalir tanpa perlu memikirkan dampak yang akan timbul setelahnya.
Tapi kembali berfikir tentang akibat, aku merasa bahwa tak akan ada seorangpun di dunia ini yang akan merasa jadi korban dari sekian banyak kata yang kurangkai disini. Rangkaian kata yang kadang tak bermakna dan kadang tak punya jiwa tidak pernah bermaksud untuk menyentuh hati atau kalbu seseorang. Namun begitu banyak juga rangkaian kata yang merupakan ungkapan rasa dalam hati yang paling dalam, yang hanya mampu tertuang dalam baris kata, bukan dalam lantunan suara dengan intonasi irama naik turun, sendu dan riang atau kadang parau dalam kedukaan yang dalam.
Mungkin kelak, bagiku akan mempunyai arti yang bermakna penuh ketika usia tak lagi mampu menggerakkan jemari ini untuk menuangkan bahkan hanya sebaris kata.
Setelah upacara kesaktian Pancasila.
Add comment October 7, 2008
Mudik Bareng
Lebaran tahun 1429 H ini jatuh pada Hari Rabu tanggal 1 Oktober 2008. Seperti lebaran sebelumnya, saya, suami dan dua orang anak kecil kami berangkat ke Yogyakarta. Kali ini berangkat mudiknya tidak mengendarai kendaraan pribadi, tetapi mudik bareng Telkomsel tentu saja selain karena gratis juga berharap bahwa dengan naik bus kami tidak perlu bercapek-capek mengendarai mobil. Pagi jam 6 sudah sampai di Senayan, sambil menunggu adik dan rombongan dari Grapari Bogor yang belum sampai saya melihat kegiatan di sekitar parkir timur Senayan. Ternyata selain Telkomsel yang berduet dengan Flexi, juga ada mudik bareng Hemaviton.
Setelah bertemu dengan adik dan keluarganya (mereka suami istri dan satu bayi), maka mulailah mengantri untuk daftar ulang dan mengambil kaos merah Telkomsel. Setelah itu kami menuju bis no 24 jurusan Yogya, Solo dan Madiun. Mengambil posisi tempat duduk dan mendapat paket berupa satu tas kertas merah, Topi Merah dan bantal mungil yang semuanya berlogo Telkomsel. Sementara masih menunggu penumpang lain yang belum selesai dengan urusan yang sama, saya berjalan berkeliling bersama si kecil yang sangat senang melihat suasana yang meriah, penuh dengan warna merah khas Telkomsel dan Hijau khas Flexi. Salah satu stan di pinggir jalan pintu masuk arena, menyediakan kartu perdana flexi gratis yang diserbu banyak para pemudik atau yang mengantar pemudik.
Berangkat jam 9 melewati jalur tol cipularang. Selama keberangkatan dimulai dengan kuis yang dipandu oleh LOnya. Setiap pertanyaan yang bisa dijawab mendapat sebuah kepingan mp3 berisi lantunan religi dan terakhir diberikan sebuah kaos yang lagi2 warnanya merah. Masih ada sebuah kejutan, yaitu pemberian uang makan sebesar Rp. 30.000,- per orang untuk jatah makan. Lumayan berarti berempat dapat Rp.120.000,- dong. Selanjutnya perjalanan melewati Bandung dengan jalan meliuk-liuk yang membuat perut terasa seperti dikocok habis. Setelah keluar keringat dingin sekujur tubuh, akhirnya saya tidak kuat lagi sampai muntah meskipun cuma air yang keluar. Istirahat pertama untuk sholat dzuhur sekitar 20 menit perjalanan dilanjutkan kembali, kali ini saya masih terasa mual dan pusing sampai akhirnya muntah lagi. Kedua anak saya dijaga oleh ayah dan omnya. Sampai Majenang bus berhenti untuk berisitahat dan persiapan berbuka puasa.
Begitu banyaknya pemudik sehingga rumah makan besar yang cuma satu2nya tidak mampu menampung seluruhnya. Sebagian ada yang ke warung bakso, warung soto, warung sate dan karena tidak mendapat tempat akhirnya saya cuma mencari beberapa gelas teh panas di warung yang menjual aneka snack dan minuman soft drink. Setelah minum segelas teh panas dan makan nasi yang dibawa adik plus rendang buatan saya dari hasil pembagian daging dari kantor jumat kemarin, akhirnya saya minum antimo. Ini yang pertama kali lho, sebelumnya saya tidak percaya antimo menyenangkan perjalanan saya……. tapi ternyata bener banget, sampai yogya saya tidak mual, pusing apalagi muntah. Alhamdulillah banget.
Sampai di rumah ngobrol sebentar dan langsung tidur sampai tidak bisa bangun pas waktu sahur, tapi puasa tetap berlanjut. Siang hari setelah mandi keluar rumah ketemu tetangga kiri, kanan dan depan (belakang ga perlu, karena jarang banget ke belakang kecuali mau ke Mesjid). Hampir setiap orang memberi komentar bahwa saya kurus banget, sebagian sih menduga kalo saya lagi diet tapi saya senyum-senyum saja.
Malam takbiran saya sudah membuat opor ayam, ketupat, semur daging, bacem ayam dan sayur kates. Setelah itu istirahat karena anak-anak diajak melihat perlombaan takbir antar mesjid. Mungkin karena terlalu lelah, saya tertidur sampai pagi. Padahal niatnya mau jalan2 keluar menikmati malam takbiran di kampung.
Pagi semua sudah siap untuk berangkat ke lapangan untuk shalat ied , tapi Tiara kok tidak mau bangun dan tampaknya sangat lelah sekali. Ayahnya disandera untuk tidak berangkat…… duh padahal cuma sekali setahun, kok masih gagal juga yah.
Kembali dari lapangan semua warga berkumpul di Mesjid untuk bersalam-salaman. Teriknya matahari tidak mengurangi semangat untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Semoga Iedul Fitri kembali membawa berkah dan kesucian dalam hati dan jiwa setiap insan yang merayakannya. Semoga lebaran kali ini benar-benar lebar, lebur dan luber, lebar menerima segala khilaf dan salah orang lain, lebur dalam keikhlasan dan luber dalam kegembiraan nan suci, aaamiiin ya robbal alamiiin.
Add comment October 6, 2008