Naik Jabatan

Hari ini ada pelantikan eselon IV dan eselon III di aula kantor tempat saya mengabdi….. aduh masih pantes ga yah menulis kata mengabdi, karena pada kenyataannya bukan saya mengabdikan diri pada negara tapi negara memfasilitasi keinginan saya…. apasehh..maksud saya, di sela-sela luang waktu pasti saya sempatkan untuk sekedar say hello lewat e-mail atau menuangkan perasaan lewat tulisan di blog saya…. ampun ibu pertiwi… ternyata di bumi Indonesia ini saya belum bisa mengabdi untuk kebaikan dan kesejahteraan anak bangsa.

Lanjut ke pelantikan. Ada seorang eselon yang hari ini tidak bisa menghadiri acara pelantikan tersebut karena hari ini dilimpahkan tugas untuk mengajar menggantikan seseorang yang dilantik. Sebenarnya ini bukan masalah atau bukan sesuatu yang patut untuk dibicarakan, hanya saja pada waktu ketika seseorang itu meminta ijin untuk menukar hari…. kok alasanya ada keperluan keluarga??? Bukankah bisa berterus terang bahwa besok saya harus menghadiri pelantikan diri saya yang dipromosikan menjadi eselon III. Kan lebih fair, dan tidak mengada-ada.

Lalu mengingat kembali siapa yang dipromosi dan dimutasi dan siapa yang mempromosikan/memutasikan…… saya kembali berfikir, apakah benda tebal yang bernama “duk” sudah tidak bisa digunakan lagi? Sudah tidak bisa dijadikan acuan untuk memilah dan memilih dengan lebih obyektif, siapa dan mengapa bisa ditempatkan pada posisi yang dituju.

Waduh, saya kok jadi merasa sok pinter yah….. padahal saya hanya ingin menuangkan sekian banyak suara dan pertanyaan dari saya dan rekan-rekan yang kecewa dengan keadaan yang semakin tidak menentu dalam mengambil kebijakan di instansi ini. Tapi apakah ini penting….?? Tentu tidak karena “siapa” menentukan “bunyi/suara” atau dengan bahasa sastranya …. “bunyi dilihat darimana keluarnya, baru bisa dinilai, bukan dari apa yang dihasilkannya” …… demikian sekilas info.

PS :

Buat yang mengemban amanah, semoga bisa menjaga dan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya dan sebenar-benarnya, karena “anda” diawasi langsung oleh 2 malaikat di kanan dan kiri bahu “anda” setiap saat.

3 comments February 25, 2009 rh241

galau

hari ini,
tak jua kutemui sebaris kata
atau tanda
atau apapun dari mu
yang menunjukkan bahwa kamu ada disini
membuka satu demi satu kata yang mengalir dari jemariku
atau sekedar mengetahui keberadaanmu
dan mengeras hati dalam galau
menitik tangis dalam relung yang tak bergema
bahkan tak pernah tampak meski di mata
galau yang mendera
adalah duka yang tak pupus oleh tawa
juga tak sirna dalam canda
galau ini….. mendera jiwa
bilakah hadirmu kembali????

Add comment January 29, 2009 rh241

Dinding Terkena Minyak Goreng

Pernah mengalami kejadian dinding terkena atau kecipratan minyak goreng? Saya pernah mengalami hal seperti ini . Ketika itu rumah yang ditempati belum cuma ada dua kamar yang dinding penghubungnya juga belum dibuat, apalagi dapurnya….. wuih masih jauh banget bro. Akhirnya kegiatan masak memasak dilakukan di kamar depan dan tidur dibagian belakang. Alhasil dinding itu kecipratan minyak untuk menggoreng.

Awalnya sih tidak jadi masalah, karena ketika kamar itu sudah digunakan sesuai fungsinya bercak-bercak di dinding tertutupi oleh tempat tidur. Namun ketika saya menggeser posisi tempat tidur baru kelihatan bahwa warna dinding tersebut tidak sama dengan dinding yang lainnya.

Ketika melihat ke plafon yang mestinya berwarna putih saya juga merasa kecewa karena disana ada bercak-bercak air hujan yang terjadi ketika pembuatan talang yang salah mengakibatkan kebocoran yang besar. Warna coklat dan kehitaman mendominasi bagian-bagian yang terkena air.

Akhirnya pulang kerja mampir ke toko bangunan, beli cat minyak warna putih, kuas, kape, dan amplas. Sampe di rumah langsung buka atribut ganti celana pendek dan kaos, pasang penutup mulut dan hidung, pakai kaca mata bening, bongkar tempat tidur, ambil tangga dan mulai deh kerja…. Pertama kali yang harus dilakukan adalah membersihkan plafon dari jamur dan kotoran-kotoran yang menempel dengan menggunakan kape, lalu di amplas sedikit dan mulai deh dipoles dengan cat minyak. Selesai urusan dengan plafon turun lagi ke dinding….. amplas bagian dinding yang terkena cipratan minyak dan poles lagi dengan cat minyak. Warna dinding yang semula biru menjadi belang-belang putih terkena cat minyak.

Berbeda dengan mengecat besi yang cepat kering, ternyata cat minyak yang dipoles ke kayu maupun ke dinding tidak cepat mengering. Jadi hasilnya masih menunggu sampai besok lagi. Biasanya  setelah dicat kembali dengan cat tembok yang baru warna belang akan segera hilang. Tinggal memikirkan warna apa yang baik untuk mengganti warna biru….. hmm pink mungkin lebih romantis..

Add comment January 29, 2009 rh241

Fatwa MUI Rokok Haram

Beberapa media menulis tentang Fatwa MUI yang menyatakan bahwa rokok itu haram untuk anak-anak, remaja dan ibu hamil. Berbagai macam tanggapanpun bermunculan, ada yang mestinya fatwa itu ditujukan untuk pemerintah, ada yang mendukung tapi ada juga yang mengatakan bahwa fatwa itu akan mandul dalam pelaksanaannya seperti pada Perda DKI tentang larangan merokok di tempat umum.

Merokok pada dasarnya bukanlah kebutuhan pokok setiap orang, dan hanya orang-orang tertentu yang memang mempunyai kebiasaan dan cenderung menjadi kecanduan rokok. Jadi kalo ada orang yang beranggapan bahwa merokok adalah hak pribadi seseorang itu sudah pasti benar. Namun setiap perbuatan ada konsekwensi yang menyertainya yang bisa jadi berakibat bagi dirinya sendiri dan kadang berakibat pula bagi orang lain.

Merokok adalah suatu hal yang dianggap penting (karena para perokok akan rela tidak beli makan, asal bisa beli rokok) bagi perokok, namun asap yang keluar dari rokok itu tidak dapat dinikmati sendiri atau dihabiskan sendiri olehnya. Asap rokok akan terus mengepul bersama udara dan akan berhembus bersama angin. Sedangkan dibumi ini sang perokok tidak hidup sendiri, akan ada ribuan lubang hidung dan paru-paru yang menarik udara yang mengandung asap tersebut.

Disinilah mulai terjadi dampak yang kurang menguntungkan bagi orang yang tidak merokok (perokok pasif tanpa sengaja),  karena oksigen yang diharapkan masuk, malah racun rokok yang tersedot. Hampir dapat dipastikan bahwa para perokok  ini tahu kandungan racun yang terdapat dalam rokok, yang kadang membuat mereka (para perokok) tersenyum geli karena racun knalpot dan pembuat bom atom pun ada dalam racun rokok.

Memang jika dilihat kandungan racun yang terdapat dalam sebatang rokok sangat kecil jumlahnya, namun jika dilihat dari jumlah rokok yang dihisap maka jumlah kandungan racun akan terus meningkat.

Jadi memang diperlukan kesadaran, niat dan keinginan yang kuat untuk dapat berhenti dari merokok. Kesadaran ini bisa timbul karena memang ada keinginan atau niat untuk berhenti, atau karena suatu musibah yang disebabkan oleh racun rokok ini telah menimpanya.

Fatwa MUI bukanlah suatu yang main-main sifatnya, karena sebelum dikeluarkan suatu fatwa tentu sudah dianalisa dampak buruk yang timbul dari merokok, asal hukum, illat, hukum cabang dan pengambilan kesimpulan yang kemudian keluar menjadi fatwa.

Semoga para perokok menyadari arti penting sebuah tarikan nafas bagi manusia lainnya….

Add comment January 28, 2009 rh241

Jangan Pernah….

jangan pergi,
meskipun hanya sebentar saja
diamlah tetap dalam hatiku
meski tak tahu apakah kan mempunyai makna yang berarti
atau hanya beku dalam kediamanmu

jangan pernah pergi
meski dalam remang
dapat kuraba kehadiranmu
dapat kurasa penglihatanmu
dapat kurengkuh kokoh jiwamu

meski
berganti gerhana dalam hidup
berganti terang dan gelap
berganti hujan dan panas
aku tetap bertahan
dalam keadaan yang sama tentangmu
jadi diamlah disitu
dalam relung yang tak tembus kasat mata
dalam taman yang tak terhiasi kata
dalam hati yang tersimpuh doa setiap waktu untukmu
jangan pernah pergi….. cintaku.

Add comment January 28, 2009 rh241

Kombinasi

Tahun sudah berganti, purnama sudah bergulir sekian kali di semester ini, minggupun tak lagi ingin menepi di sebuah keramaian yang memungkinkan terjadinya interaksi.

Cakrawala enggan pula bersahabat dengan penghuni bumi. Siang yang meranggas dengan lekukan malam yang dingin menggigit, sementara serangga seakan tak berhenti berjuang untuk mencari penghidupan yang kian terasa berat.

Kutatap cermin yang memantulkan sebentuk wajah dalam pias dan letih yang mendera. Ada sebentuk luka yang belum juga mengering dan terus menyelinap dalam perputaran daya pikir dan imajinasi. Nyaris menutup setiap gerak yang terpancar dan membekuknya untuk terdiam tanpa daya.

Rindu pada matahari yang membiaskan kelembutan sinarnya dalam desau angin pagi, bukan belutan awan hitam yang menggantung di sepanjang hari tanpa cahaya. Rindu pada suatu ketika dimana jiwa masih mengendap dalam lorong hangat tanpa warna merah jingga. Rindu pada suatu ketika dimana secret code tak pernah ada dalam getaran nada.

Semester terlewati, dimana purnama enggan lagi tuk menyeruak lewat kaca jendela di kamar depan. Tertutup tirai-tirai mencoba tuk menahan segala warna yang menyertainya. Pernah menikmati purnama membuat terkapar dan menghambat aliran oksigen ke paru-paru dalam rongga nafas yang mengecil tanpa sebab, setelah 18 tahun tak pernah terjadi.

Tahun in, beranjak pada fase menuju kedewasaan yang semestinya terlewati, dan jalan ini terasa mengikat kaki pada bandul puluhan kilo yang membuat langkah tertatih. Sepi meranggas dalam kerlip lampu malam dan ocehan mulut tanpa dosa. Telinga tak sempurna mendengar dengan kombinasi otak yang fokus pada  kesamaran, mencoba menembus lapisan yang tak tahu entah berapa jauh dan ketebalannya. Ada rasa yang tertuang tanpa wadah.

ketika purnama tertutup awan mendung.

_

Add comment January 10, 2009 rh241

Jalan sempit berliku

Hari itu saya ingin menghadiri resepsi perkawinan salah seorang teman yang meskipun bisa dibilang akrab, tapi tak dekat. Bagaimana mau dibilang dekat, karena bertemupun baru sekali, tapi bisa dibilang akrab karena hampir setiap hari menjalin komunikasi dunia maya alias ngenet.

Kali ini saya hanya berdua suami, karena kebetulan anak-anak sedang tidur dan ada yang menemani mereka. Wah asyiknya bisa berduaan, bisa bebas sebentar dari gangguan buah hati dan bisa ngobrol ngalor-ngidul tanpa ada intrupsi mendadak.

Ditengah perjalanan saya baru menyadari kalau saya hanya memakai sandal karet bukan sepatu atau selop, pas saya melihat ke kaki suami saya, ternyata suami memakai sandal juga (tapi masih bagus pake sandal kulit)…… lho kok bisa sama sih? Ternyata suami saya menyimpan sepasang sepatu di bagasi. Wah tinggal saya nih yang jadi merasa aneh sendiri.

Sebenarnya sih saya tidak malu memakai sandal karet ke acara apapun, tapi karena saya tidak berangkat sendiri, jadi saya akan merasa sangat bersalah kalau orang yang jalan di sisi saya merasa malu dengan penampilan saya yang tidak sepantasnya.  Saya jadi teringat dengan seorang perempuan yang berkenalan di busway yang pakaiannya modis, dandanannya oke tetapi harus memakai sandal jepit karena hak sepatunya copot di tengah jalan.

Untungnya keluar dari pintu tol masih melewati pasar tradisional. Pasar yang semakin kurang diminati oleh masyarakat karena menjamurnya mall-mall yang menjanjikan kenyamanan dalam berbelanja. Nah di pasar ini saya singgah sebentar untuk membeli sepatu (tanpa merek) yang masih pantas untuk dipakai ke acara resepsi. Harga….. tak jadi masalah, karena sepatu yang tersedia tersedia dari 10 ribu sampai 200 ribuan, dan tidak pakai lama. Berbeda kalau beli sepatunya di Pasaraya atau di Pasar baru, pasti pake lama dan harganya juga bisa mencapai jutaan rupiah.

Melewati Stasiun Bojong Gede yang jalannya kecil dengan banyak angkot yang sebentar-sebentar berhenti, membuat perjalanan semakin terasa lama. Apalagi hujan terus menerus mengguyur di sepanjang jalan, rasanya sudah tak sabar ingin pulang kembali ke rumah.

Alhamdulillah akhirnya sampai juga di perhelatan besar itu. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan sang mempelai, ikutan photo bareng, menikmati sepiring (bukan semangkuk) sop hangat, kami segera pamit pulang.

Sepanjang jalan menuju Bogor melewati jalan sempit yang sedang diperbaiki dan melintasi jalur pinggir kali yang rawan longsor. Jalan ini sempit dan berbatasan dengan kali, jadi kalau kurang hati-hati mungkin bisa terjadi kecelakaan yang berakibat penumpang plus kendaraan yang ditumpangi tercebur kali.

Semoga tidak melewati jalan ini lagi, atau setidaknya saya berharap kalau melewati jalan ini lintasan yang sedang diperbaiki sudah selesai, sehingga rasa was-was yang timbul akan berkurang.

Buat teman yang baru menjadi pengantin, semoga akan selalu bahagia, diberkahi dengan kasih sayang dan kecukupan serta keturunan yang baik dan tetap bersatu sampai akhirat, aaamiiin.

Add comment January 10, 2009 rh241

Tak Bertepi

Ketika jemari lemah ini terkepal

mencari suatu kekuatan yang tersembunyi

menarik, menahan dan melepaskan

warna-warnapun bermunculan dari balik kelopak mata yang terpejam

merah jingga, hijau, coklat, kuning, abu-abu dan ungu

Sebentuk hati mencuat dalam hening

nyaris tak bermakna bagiku

letih jiwa dalam penat yang mendera

dan hasrat hati yang mesti dikubur jauh dilubuk yang terdalam

perlahan mulai merona

memberi kesegaran dan ketenangan

kugapai sesuatu

namun gamang terasa nurani

inikah jalan-Mu ya Robbi ?

atau aku tenggelam dalam kegelapan tanpa cahaya-Mu di terangnya dunia yang Kau cipta

tapi……

masih ada secercah rindu yang tak bertepi.

Add comment January 8, 2009 rh241

BUNDA

Sejenak kupandang wajah tua

yang dulu terlihat ayu dimataku

kugengam jemarinya yang tak lagi kokoh

yang begitu kuat diterpa badai kehidupan

yang begitu kuat menerima takdir kehidupan

jemari ini mungkin dulu tak sempat membelaiku

karna begitu banyak beban yang harus ditunaikan

tapi masih bisa kurasakan perjuangan dan kelembutan hatinya

masih bisa kulihat ketabahannya

masih sering ku ingat rambut panjangnya yang hitam dan tebal

dan aku sering tak percaya bahwa semua sudah pudar dalam putih uban

sering ku menatap penuh harap

bahwa suatu ketika aku juga akan memiliki

mata penuh kasih

mata bapakku yang menatapnya

mata yang selalu penuh dengan cinta

yang seutuhnya dan sepenuhnya tertumpah

hanya untuk satu wanita pendamping hidupnya

yang melahirkan dan membesarkan anak-anaknya

betapapun,

tak pernah mampu kubalas kebesaran jasamu

tak kan mampu kuberi ketulusan seperti ketulusanmu

tak kan mampu kupeluk sehangat pelukanmu

hanya satu yang dapat kulakukan

kuberdoa kepada pemilik jiwamu, wahai bunda

ampunilah dosa bundaku ya Allah

sayangilah dia seperti dia menyayangiku diwaktu kecil

penuhilah kehidupannya dengan cinta-Mu ya Allah

cinta yang hakiki, di dunia dan di akhirat

dan tempatkanlah dirinya dalam surga kepunyaan Mu

di dunia dan di akhirat…. aaamiiin.

Add comment November 18, 2008 rh241

Mempertajam Intuisi

mempertajam intuisi, sepertinya sebuah bahasa yang tinggi banget untuk orang seperti saya yang serba tidak mengerti ilmu, baik itu ilmu agama, kebathinan, apalagi ilmu teknologi. Tapi bahasan seperti ini sering saya dengar dari teman-teman yang memperdalam seni pernafasan. Sebenernya pada awalnya saya juga bingung binatang apasih intuisi itu? Mengapa sebagian orang memiliki intuisi yang tajam, sementara yang lain sama sekali tidak mengerti ada atau tidaknya intuisi dalam dirinya.

Menurut sumber yang bisa saya percaya intuisi adalah suatu kemampuan untuk mendengarkan bisikan atau sesuatu yang sumbernya dari dalam hati nurani atau kalbu. Biasanya intuisi ini merupakan suatu tanda atau peringatan akan sesuatu yang akan terjadi pada diri sendiri, pada diri orang lain atau pada lingkungan kita. Namun seberapa besar dan seberapa kuatkah intuisi itu berpengaruh terhadap kehidupan seseorang, saya sendiri juga kurang tahu.

Beberapa minggu saya mencoba mempertajam intuisi saya dengan mendengarkan apa yang terdeteksi oleh hati dan mencoba untuk mengikutinya. Ternyata sungguh menakjubkan, beberapa hal yang terjadi adalah sesuai dengan apa yang saya dengar. Dan yang paling menakjubkan adalah ketika saya melihat seorang teman yang sudah hampir lima bulan tidak bertemu. Hari itu saya mengendarai mobil tua kesayangan bersama suami lewat tol jagorawi. Semula sih mau keluar bogor, tapi begitu suami nanya mau keluar mana, saya langsung jawab cibinong saja deh.  Ternyata ada teman yang juga keluar di pintu tol yang sama.

Seorang teman bercerita bahwa dia selamat dari bencana tertimpa pohon yang tumbang dengan mendengar intuisinya untuk berhenti sejenak. Cerita lainnya adalah ketika ada anak ular yang jatuh di dalam rumah, ketika itu suami saya akan melintasi pintu tengah, tapi entah kenapa mendadak saya memanggilnya dan diapun berhenti, tak lama kemudian…..bukk…jatuhlah si anak ular tak jauh dari suami. Bayangkan kalau sang ular jatuh menimpanya, pasti saya kerepotan membuang ular dan mengangkat suami yang dijamin pasti pingsan.

Sebenarnya saya juga ingin mendapat lebih banyak mengerti apakah ada cara lain selain mendengar dan mengikuti suara hati. Namun sekarang sepertinya belum ada yang bisa mengajarkan bagaimana mempertajam intuisi agar lebih berguna. Kalau secara agama, kata intuisi mungkin lebih cocok disebut dengan suara kalbu/qolbu. Karena sebenarnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging yang jika baik dengannya, maka baiklah seluruh dirinya dan jika buruk dengannya, maka buruklah seluruh dirinya. Dan untuk memperbaiki segumpal daging itu, kita harus banyak-banyak beristighfar, membersihkan diri dari segala kesalahan dan dosa dan selalu berdzikir/mengingat Sang Maha Sempurna, Alloh SWT.

Kesimpulannya memperbanyak beristighfat dan mengurangi berbuat dosa bisa lebih mempertajam keyakinan akan kebenaran yang telah ada dalam hati kita, dan tentu saja akan memperkuat dan mempertajam intuisi yang telah kita miliki.

1 comment November 18, 2008 rh241

Previous Posts

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

July 2009
M T W T F S S
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts